Jumat, 06 Desember 2019

Terus Belajar, Jangan Merasa Pintar~

Menunduklah, selagi ringan.. 
Menunduklah, selagi sabar.. 
Menunduklah, selagi bisa.. 

Kamu tau? 
Menunduk itu adalah saat dimana kita merendah.. 
Bukan diri,  melainkan hati..

Kamu tau? 
Menunduk juga harus kita lalukan,  walaupun saat dimana kita dianggap tidak mengerti suatu hal,  padahal paham... 
Hanya saja tetap mau mendengar sesuatu yang kurang enak untuk didengar.. 
Sampai akhirnya diri merasa dianggap bodoh.. 
(Introduction) 

Panggil saja Ria, 
Seseorang yang sangat mencintai perkumpulan dan organisasi.
Pengalamannya sudah tak diragukan, karena banyaknya bidang organisasi yang telah dia ikuti sejak saat duduk di bangku sekolahan. 

Dia selalu terbuka dan menerima masukan dari setiap anggotanya, mau menerima saran dan kritik apapun yang bersifat membangun. 

Sampai akhirnya Ria kini bekerja disebuah perusahaan swasta di kotanya,  Yogyakarta. 
Karirnya benar-benar dari nol hingga akhirnya dia diberi kepercayaan untuk memimpin. 

Ria dikenal ramah dan jarang sekali marah,  berani selama benar dan mengakui kesalahan jika salah. 

Jika ada suatu hal yang dinilainya kurang baik,  dengan sopan dia selalu menegur dan memberikan masukan terhadap siapapun termasuk atasannya,  hanya saja jika pada atasan dia hanya akan memberi masukan dan tidak seolah mengajari, karena Ria sadar, materi yang atasannya tau dan mengerti justru jauh lebih banyak dari dirinya.
***

Ria selalu mencoba menjaga hati orang lain dengan mengesampingkan hatinya.
Tetap meluruskan apa yang salah, dan tetap tau batasan dan tau cara dengan siapa dia berhadapan.
***

Akhirnya dia pun menikah dengan seorang pemuda yang tinggal satu kota dengannya.
Jodoh ternyata memang cerminan diri, Ria menikah dengan pria yang mencintai organisasi dan kepemimpinan seperti dirinya.
***

Berkaca dari karakter Ria "Bahwa jika diri sudah merasa pintar, itu salah.. 
kita harus tetap menunduk dan tau cara saat berhadapan dengan seseorang. 

Jika sedikit pun tidak menunduk,  apakah yakin caramu tidak menyinggung? 
Dan apakah kamu yakin kamu sudah lebih pintar dari orang yang tersinggung? 
***

لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ فَإِذَا ظَنَّ أَنَّــهُ قَدْ عَلــِمَ فَقَدْ جَهِـــلَ

Seseorang disebut pintar selama ia terus belajar. Begitu ia merasa pintar, saat itu ia bodoh.” (Abdullah ibn Mubarak, ulama sufi, wafat 797 M) 

(Closing) 


Jadi mau jadi orang yang terus belajar atau mau merasa pintar? 

Jumat, 25 Oktober 2019

Berbagilah, Tapi Jangan Menyinggung

Bakat menulis seseorang kini sudah lebih mudah dikembangkan dengan perkembangan zaman. 
Seperti dengan sosial media misalnya. 

Dengan menulis dan membagikannya untuk konsumsi publik,  kini tulisan sesingkat apapun bisa dengan mudah terbaca oleh banyak orang. 

Namun sayangnya,  tidak semua tulisan bertujuan baik. 
Tidak sedikit orang membagikan tulisannya untuk tujuan menyindir atau menyinggung orang lain yang kurang disukainya. 

Tidak sedikit juga pertengkaran terjadi karena ketersinggungan itu membuat suatu pertengkaran, yang pada akhirnya membuat suasana tidak harmonis lagi. 

Mungkin dengan membagikan tulisan seperti itu memberikan kepuasan karena dapat meluapkan apa yang ada di pikiran. 

Ingatlah,  kamu,  aku,  dan kita bukanlah pemilik hati bagaikan malaikat. 
Seberapa kesal hati, lebih baik tidak untuk berbagi tulisan dengan tujuan menyingggung orang lain walau atas dasar tidak suka atau benci.

Tahukah kita? Bahwa dampaknya itu bisa melukai orang lain lebih banyak selain dari orang yang memang ditujukan untuk disinggung.

Karakter seseorang bisa dilihat dari apa yang dia bagikan, memang orang membagikan sesuatu tentang ibadah dan kebaikan bukan berarti dia sudah baik, tapi orang yang membagikan kebaikan walaupun dia belum menjadi orang baik, itu lebih baik, dibandingkan orang yang membagikan suatu keburukan untuk dikonsumsi publik.

Mirisnya, jika orang terdekat dengan kita yang kita tidak mengerti mengapa dia bisa membagikan postingan seakan kita ini buruk.
What? Itu artinya ketika kita sudah mencoba memberikan yang terbaik, pertolongan terbaik, ketulusan terbaik tetap saja akan ada pandangan dan penilaian buruk dari orang lain.

Sudah.. Biarlah..
Berkaca dengan diri sendiri, sebaik apapun orang lain terhadap kita..
Akan tetap ada kekesalan dan kekecewaan kita kepada orang tersebut

Sebaliknya..
Sekeras apapun kita sudah mencoba berbuat baik kepada orang lain, tetap akan ada apa yang menjadi keburukan kita yang membuat orang lain kesal atau kecewa.

Dari situ, lebih baik aku, kamu dan kita lebih bijak dan belajar untuk berhenti membagikan tulisan sesingkat apapun yang bertujuan menyinggung atau merasa diri sendiri paling benar.

Kembangkan keahlian menulis kamu, aku dan kita untuk menulis sesuatu yang positif atau baik untuk dikonsumsi publik.


Yuuukkkk ?





Jumat, 30 Agustus 2019

Nafasku Ujianku~

Dua puluh satu tahun silam aku dilahirkan ke dunia.
Tak ingat bagaimana aku mengeluarkan suara tangisan pertamaku saat itu.
Tak ingat juga bagaimana rasanya melihat dunia untuk pertama kalinya.

Terkadang bertanya pada diri sendiri,  apakah ada yang tidak menginginkan kehadiranku saat itu? 
Namun pertanyaan macam apa ini?!

Aku hidup untuk tumbuh..
Tumbuhlah aku menjadi seorang anak anak
Anak anak yang senang bermain pada umumnya..

Tak banyak kata yang bisa kutuliskan bagaimana masa kecilku saat itu,  karena terlalu panjang..

Aku hidup untuk belajar...
Saat pertama kalinya Mama mendaftarkan aku di salah satu Taman Pendidikan Al-Qur'an setara TK kala itu..

Setelah itu aku didaftarkan ke Sekolah Dasar,  Sekolah Menengah Pertama dan Atas .

Aku hidup untuk maju...
Selepas selesai sekolah,  langkahku terhenti karena belum bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Tapi..

Aku hidup untuk terus berjuang..
Langkahku terhenti bukan berarti aku mati..

Aku hidup untuk bekerja..
Bekerja dengan tidak mematikan mimpi-mimpiku..
Sering kali berpindah-pindah tempat kerja kala itu..

Sampai akhirnya aku memustuskan untuk bertahan selama 6 bulan bekerja sebagai kasir di sebuah kafe..

Gaji yang kudapat tidak begitu besar,  tapi aku sisihkan untuk biaya Kursus Bahasa kala itu karena saat itu aku sangat berkeinginan keras untuk melanjutkan pendidikanku, aku rasa jika itu belum bisa diraih..

Kenapaa aku tidak mengisi waktu kosong ku setelah bekerja dengan kursus?
Itulah sebabnya aku ambil kursus selama kurang lebih 4 bulan.

Aku hidup untuk berpindah..
Selesai kursus aku tidak lagi bekerja di kafe..

Aku ambil part time dan tawaran internship kala itu..
Itupun tak bertahan lama, sampai akhirnyaaa aku bekerja ditempatku saat ini..

Tempat yang memberiku banyak pengalaman dan pelajaran hidup.
***

Cerita hidup tidak selancar tulisan yang kubuat dari awal paragraf sampai bagian ini..
Tidak..

Terkadang aku tak sanggup menjalani apa yang sedang berlaku..

Terkadang aku merasa hati tertekan dan sesak..

Terkadang aku merasa tidak bermanfaat..

Terkadang aku merasa tidak pantas..

Terkadang pula aku tidak bisa mengontrol emosi dan tangisan..

Aku paham.. 
Bahwa nafasku adalah ujianku..
Iyaaa ujian!  Ujian hidup yang kadang terasa berada diluar batas.
Ujian perasaan..
Ujian kegelisahan..
Ujian keraguan..
Ujian kejahatan..
Ujian prasangka jahat..
Ujian dan ujian lainnya..
***

Aku terkadang benci sebagai pemikir dan perasa panjang,  karena itu menyiksaa..

Tidak perlu banyak bicara untuk menerangkan aku siapa dan bagaimana karakterku..

Karena baik dan benar itu bukan dari mulut,  tapi dari tindakan dan kenyataan yang berlaku..

Aku hidup untuk bangkit!
Aku hidup untuk maju!
Aku hidup untuk kejujuran!
Aku hidup untuk bermanfaat!
Aku hidup untuk berbagi!
Aku hidup untuk kehidupan!

Dan..

Aku hidup untuk mati~

Minggu, 21 Juli 2019

Aku Tidak Manja~


Hai Angin,
Begitu hebatnya kamu yang tak pernah lelah untuk memberikan hembusan setiap waktu..

Tak heran..
Jika aku dan makhluk lainnya pun tak bisa hidup tanpa hembusan yang kau tiupkan itu..

Bagaimana dengan kamu Matahari?
Tak pernah lelah juga kamu terbit dari waktu fajar demi memberikan penyinaran untuk semua orang..

Tak heran..
Semua orang sangat bergantung dengan kehadiranmu wahai Matahari..

Eh ada Bulan..
Semangat yaaa karena shift kamu sudah dimulai..  Hihi
Terima kasih karena selalu sudi untuk bergantian menyinari langit ketika Matahari tengah beristirahat..

Kamu kah yang berkelip diatas sana wahai Bintang?
Wah..
Beruntungnya Bulan tidak sendirian dalam kegelapan malam..

Angin..
Matahari..
Bulan..
Bintang..
Jangan pernah lelah yaaa untuk mencintai semua orang dengan peran kalian 💛

***

Huuuu...
Huu...
Hu...
Hembusan angin malam terdengar begitu kencang,
Kini sudah akan berganti hari..
Namun mataku masih belum bisa terpejam..

Tangan dan hati tergerak untuk menuliskan susunan kalimat yang muncul didalam hati..

Terlintas didalam pikiran tentang apa dan bagaimana penilaian seseorang tentang sikap dan perlakuanku..

Dekat dengan kedua orang tua terlebih Mama,  membuat sebagian besar orang disekitar menyebutkan bahwa aku manja..

Jika mengingat apa yang aku lakukan dengan rutinitas ku dirumah..

Mungkin aku memang kekanak-kanakan,merasa masih kecil dan tidak bisa jauh dari Mama..

Semua cerita harianku pasti kubagi dengannya..
Suka maupun duka..
Dan masalah apapun itu..
***

Mama..
Adalah sesosok malaikat tak bersayap yang memperlakukanku begitu lembut dan sabar..

Merawat dan membersarkanku tanpa lelah dan tanpa mengurangi kasih sayangnya hingga aku beranjak dewasa seperti saat ini..

Dia tak pernah memandang berapa umurku,  yang jelas dimata dia aku adalah anaknya yang membutuhkan dia..

Perlakuannya bahkan bisa sama persis dilakukan seperti halnya aku masih kecil 😅

Jika kebanyakan orang merasakan suapan terakhir itu saat masih kecil..

Tidak denganku..
Bahkan sampai sudah kerja pun tangan mama masih selalu berjuang menyuapkan makanan agar anaknya ini cepat makan..

Sering kali aku tidak pernah pergi kemana pun demi bisa seharian dirumah bersamanya..

Atau bahkan membatalkan janji bersama teman dan memilih pergi bersama Mama sering aku lakukan..

Entahlah..
Seperti cintanya yang begitu besar padaku, aku juga mencintainya sangat dalam 💛

Mencintai perlakukannya yang tidak pernah berubah dari dulu hingga kini walau aku sudah beranjak dewasa..

Apakah ini yang dinamakan manja?

M a n j a..
Lima huruf ini yang membuat mataku terbuka lebar untuk bergerak jauh..
Tidak hanya berjalan ditempat yang sama..

Jika sebelumnya aku tidak pernah bisa meninggalkan rumah dengan waktu lama, kiniii waktu yang lama bisa aku tempuh..

Jika sebelumnya aku pergi kerja disiapkan makanan untuk bekal, kini aku harus membeli atau bahkan memasaknya sendiri..

Jika sebelumnya sakit itu terasa ringan karena hadirnya kasih sayang Mama yang merawat,  kini ketika sakit aku hanya bisa memendam rapat agar Mama tidak pernah tau..

Jika sebelumnya setiap keluhan terdengar begitu sering ditelinganya,  kini aku bisa bertahan untuk tidak mengeluhkan apapun dengannya..

Jika sebelumnya sedihku akan kubagi dengannya,  kini aku lebih memilih tidak menelponnya seharian atau berpura pura tertawa agar tidak terlihat murung..

Jika sebelumnya setiap pulang selalu ada yang menunggu dan membukakan pintu, kemudian dengan nada halusnya berkata "Mama khawatir,  mandi,  sholat, terus mau makan apa? "
Kini suara halus itu belum kudengar lagi..

Dibalik banyaknya "Jika" bukan berarti aku dimanja,  tidak tidak 😂
Karena aku pun dibesarkan dari keluarga sederhana,  namun dengan didikan yang luar biasa.

Dimana pun ituu,  aku tetaplah pejuang dan pemimpi!

Salam Penikmat Sendu 😊

Senin, 15 Juli 2019

Sulitnya Menilai hati~

Siapa yang bisa menilai hati seseorang?
Tentu orang lain tidak bisa menilai hati orang lain kan?

Apa yang keluar dan dirasa dari hati memang tak bisa diketahui orang lain begitu saja..

Tapi..
Bisakah kita menilai isi hati diri sendiri?
Bagaikan mudah bukan,  karena kita sendiri yang menciptakan perasaan itu wujud dalam hati.

Namun pernahkan kamu merasa sulit mengenali isi hati sendiri?
Bagaikan tak bisa ditebak jalannya hati mengalir ke arah mana..
Bagaikan tak bisa ditembus ada apaa saja yang ada didalam hati..
Bagaikan tak bisa membedakan mana rasa dan mana asa..

Yaaa..
Begitulah kurang lebih yang kini hati rasakan..
Merasa peduli dengan sesorang tapi ada atau tidak adanya dia terasa sama saja..
Merasa tidak mau kehilangan tapi cepat bosan dengan rutinitas setiap hari yang hanya bertatap muka via video call..
Merasa tidak mau terlalu jauh mendalami peran sebagai kekasih..

Apaaa ini jenuh?
Apaaa ini bosan?
Atauuu..
Hanya soal waktu yang membuat hati bagai mati tak berasa?



Sebut saja Headache Manja~

Rasanya rambut tertarik sangat kencang sekencang-kencangnya..

Rasanya bagai ada yang memukul-mukul kepalaa dengan kuat.

Terkadang dia pukul sebelah kanan,  namun terkadang dia pukul disebelah kiri.
Bahkan keseluruhan sampai kepala terasa berat!

Ah headache...
Kenapa mengganggu?
Mengganggu aktivas harian,
Mengganggu ketenangan,
Mengganggu kenyamanan,
Mengganggu rambut yg sudah terisisir rapih karena terenggut oleh jari saat kau terasa!

First day dengan cara mu sungguh tidak romantis,  menekan terlalu berat dikepala dan membuatku sulit menelan makan karena terasa mual..

Second day kamu mulai manis,  karena tidak membuat ku sulit menelan makanan,  mual pun tidak ada..
Tapii kamu membuat ku berputar-putar sampai tak tahu apa yang terjadi dan apa yang kupikirkan..

Third day kamu sangat halus..
Tak begitu terasa bahkan sampai aku lupa rasanya kepala terpukul pukul itu bagaimana..

Fourth day mungkin kamu mulai bosan dan meninggalkanku,  karena rasa sakit itu tidak kamu berikan lagi begitupun dengan fifth day..

Nah?
Whyyyyyy?
Sixth day kamu muncul lagi dan membawa sakit yang samaaa 🙄

Ohh Headache..
Stop yaaa PDKT nya sampai disini saja~

Senin, 10 Juni 2019

Penikmat Sendu

Terbaring sudah aku diatas ranjang menghadap jendela tanpa terpejam..
Malam ini,
Bagaikan malam-malam sendu sebelumnya,  aku hanya ingin diam dan meratapi apa yang terjadi..

Aku,
Si pemikir dan perasa panjang..

Aku,
Yang akan lemah jika telah goyah..

Aku,
Yang akan merasa jauh lebih kecewa jika mengecewakan orang lain..

Aku, 
Yang akan lebih tersakiti dengan diamnya orang lain..

Aku,
Yang akan menangis meratapi apa yang terjadi..

Aku,
Yang akan sangat merasa terpukul jika apa yang seharusnya tidak terjadi telah terjadi..

Aku,
Si pemikir dan perasa yang kini tengah melemah..

Mengapa hati bisa menilai diri sangat buruk dan merasa tidak berguna?

Bukankah pensil atau pena berwarna putih pun masih berguna jika dilukiskan pada lembaran kertas hitam?

Ah sudahlah..
Seketika pikiran Aku bercabang,

"Bukankah kita tidak akan selalu diatas ataupun dibawah?

Kadang kala ujian memang sengaja Sang Pencipta kirim,  supaya penerima ujian lebih kuat bukan? " Aku tengah berpikir~

Aku,
Mencoba menarik nafas dalam tangisan yang menyayat hati..

Aku,
Berharap bisa keluar dari perasaan seperti ini..

Aku,
Hanya ingin memberi tahu bahwa..

Aku,
Mungkin adalah orang yang yang mudah meneteskan air mata..

Tapi, tidak sembarangan air mata Aku keluarkan..
Melainkan..
Sesuatu hal terlalu amat Aku pikirkan,bahkan dengan mengesampingkan diri sendiri sekalipun, sehingga air mata itu akan selalu mengalir dengan sendirinya

***
Musik bernada lambat dengan lirik yang menyayat hati kini Aku putar..

Kini musik itu membawa Aku berimajinasi sedang dalam pelukan kedua orang tua yang jauh disana..

Air mata tak henti mengalir..
Kini,  rindu juga membuat Aku sesak..

***

Hati sesak, mata lelah..
Hanya kepada malam dan dalam kidung do'a Aku panjatkan..

Berharap,  keluar dari perasaan merasa diri tidak berguna..

Berharap, ada orang yang dengan motivasinya bisa membantu mengeluarkan hati dari perasaan yang menyiksa..

Berharap,  agar tetap dalam keimanan walau seterpuruk apapun itu..

Aamiin..

-Salam Penikmat Sendu-

Minggu, 14 April 2019

Rindu Sesungguhnya

Gelap sudah.
Kini malam menyelimuti hariku.
Dingin yang menusuk hati kedalam bagiannya yang paling dalam.
Sesak..
Tidak ada ruang untuk bernafas lega.

Wahai angin..
Mengapa kali ini kau berhembus begitu kencang?
Wahai bulan..
Mengapa kali ini kau tak menampakkan sinarmu yang sangat terang?
Wahai bintang..
Tak kah kau menghiasi langit seindah kemarin?
Apakah benda langit seperti kalian tengah merasakan luka juga?

Seperti aku..
Seseorang yang terluka malam ini, terluka karena orang yang disayanginya tengah terbaring sakit. 
Sakit fisiknya,  sakit hatinyaa karena selalu merindukan dan membayangkanku ada disampingnya.

Wahai malam..
Dosakah aku? 
Setidak berdaya inikah aku?
Atau mungkin hanya perasaan ku saja yang terlalu lemah?

Jujur,  aku merasakan waktu begitu cepat berlalu hari demi hari.
Namun..
Baru aku sadari ternyata waktu demi waktu terasa sangat lamban dirasakannya tanpa kehadiranku.

Bolehkah aku berasumsi untuk ini?
Berasumsi bahwa Ia hanya terlihat kuat dan tegar sama bertatap jauh melalui handphone karena tak mau anaknya merasa gelisah dan khawatir.

Ingin rasanya berteriak,  kencang dan terdengar kesana seakan aku berada disana secara nyata.

Ternyata!
Kita melakukan hal yang sama. Aku dengan caraku menyembunyikan apa yang menjadi lukaku padanya,  begitupun yang Ia lakukan.

Kasih Mama sepanjang masa.
Tidak ada Cinta lain yang menandinginya.

I MISS U SO MUCH. 😭

Minggu, 13 Januari 2019

What is a FRIEND?

Dear Malam...

Ini Aku..

Aku yang sendiri..

Entah pada siapa yang mengaku Aku ini ingin mengungkapkan apa yang yang ia rasakan.

Aku adalah manusia yang jauh dari kata sempurna.

Aku adalah manusia yang mungkin sering menyakiti hati orang lain.

Aku adalah manusia yang mungkin belum bisa menjadi seorang teman yang baik.

Aku adalah manusia yang mungkin belum bisa menjadi seorang pemimpin yang baik.

Aku adalah manusia yang mungkin tidak pantas dihargai keberadaannya.

Aku adalah manusia yang mungkin pantas untuk selalu di debat perkataannya.

Aku adalah manusia yang mungkin kini  hampir menyesal telah terlalu dekat dengan orang yang mungkin seharusnya jauh.

Aku adalah manusia yang tengah kecewa dengan dia.

Malam menjawab..

"Dia?"

"Siapa dia?  Dia siapa?  Dia yang mana?"

Lalu,  sesosok Aku kembali menjawab...

Dia yang sebelumnya dipertemukan dengan sesosok Aku dan begitu canggung.

Dia yang sebelumnya begitu menghargai ucapan dan perkataannya kepada sesosok Aku.

Dia yang sebelumnya menjadi semakin dekat.

Dia yang sebelumnya mengisi tawa sesosok Aku.

Dia yang sebelumnya telah dianggap seseorang yang sangat dekat oleh sesosok Aku.

Dia yang sebelumnya tak pernah selalu mendebat perkataan dari sesosok Aku.

Dia adalah sesosok yang sekarang sudah bisa mengerjakan semua tanpa sesosok Aku lagi.

Dan Dia yang mungkin sudah tau bagaimana bersikap seharusnya dengan sesosok Aku.
***

.
.
.
Sesosok Aku kembali mengadu...

Malam,  tahukah kamu...
Hati ini dingin,  tidak tau harus bersikap bagaimana.  Tidak tau harus berbuat apa.
Yang jelas Aku tau dia baik,  sangat baik.  Dengan kebaikannya yang juga telah dan pernah dilakukan.
Tapi...
Lidahnya jahat!
Nada tinggi itu masih terngiang,  begitu juga dengan perdebatan sebelumnya
Sehingga membuatku benar-benar hampir menyesal karena membuatnya begitu dekat dan mengetahui siapa aku~

WHAT IS A FRIEND?