Selasa, 01 Desember 2020

Menanti Pelangi Setelah Hujan 💦

Tak terasa tahun ini akan segera berakhir. 
Jika dibayangkan,  tahun ini begitu berat bagiku. 
Walaupun, berat juga bagi semua orang karena menghadapi pandemi yang terjadi. 

Terkadang aku terpukul.. 
Terkadang aku depresi.. 
Terkadang aku merasa tak kuat.. 
Terkadang aku merasa ketakukan sendiri.. 

Namun.. 
Tanpa kusadari,  banyak orang yang peduli dengan keadaanku. 
Walau lebih banyak lagi orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi padaku. 
Karena tertutup sudah menjadi pilihanku. 

Tak apa.. 
Karena aku tak mau mengemis perhatian orang banyak. 
Karena aku yakin seseorang yang peduli akan ada saat aku berada di titik terberat sekalipun. 

Bagaikan cerahnya langit,  aku juga bisa terlihat cerah dan ringan bagaikan tidak ada satupun kesedihan yang dirasakan. 
Namun.. 
Tidak selalu! 
Terkadang aku bisa sangat murung bahkan mungkin menyebalkan. 

Namun.. 
Aku berharap orang yang berada disekitarku bisa memahami perubahan suasana hati yang ku rasakan.  
Karena mereka pasti tau apa yang sedang kuhadapi. 


Jika malam tiba,  sering sekali aku menangis sendiri. 
Menangis dalam do'a.  Dan selalu bertanya "Apakah aku sanggup?  Apakah aku kuat?  Apakah aku bisa melalui nya? "
Pada akhirnya... 
Itu membuatku lebih terpuruk. 
Lalu,  aku hanya bisa meyakinkan diri bahwa "Allah lah yang menempatkan ku disini.  Dan Allah tidak mungkin menempatkan atau memberikan ujian diluar kemampuan hambaNya. "

Mulai saat ini.. 
Aku hanya bisa yakin.. 
Dan mengurangi ketakutanku.. 
Selalu membaca kalimat-kalimat motivasi.. 
Juga berbagi cerita hanya dengan orang yang mampu menjadi pendengar yang baik. 
Karena tidak melulu aku berbagi cerita untuk meminta solusi,  terkadang hanya butuh didengarkan. 





Senin, 28 September 2020

Ketika Allah Mengijinkanku Sakit~

Hari demi hari selalu berganti, 
Mengukir cerita dan kisah dalam hidupku. 
Pahit,  manis juga silih berganti, 
Aku lalui semua itu sampai akhirnya dititik ini. 

Tidak seorangpun akan tahu tentang takdir yang akan menjumpai dirinya. 
Bahkan hal diluar perkiraan pun bisa terjadi kapan saja. 
Siap tidak siap kita harus menerima jalan yang sudah digariskan-Nya. 

Rintihan hati tersayat ketika harus menerima kenyataan pahit..
Pedih rasanya,  sesak didada tak mampu ungkap kata..

Kini, 
Tiada hari tanpa air mata
Tiada hari tanpa khawatir akan suatu hal yang belum terjadi
Tiada hari tanpa meratapi


Aku hanya takut.. 
Walau seharusnya semua ku serahkan pada-Nya.. 
Walau seharusnya aku tetap bersyukur karena diluar sana ada yang lebih berat menerima cobaan dari-Mu,  tapi mereka mampu melewatinya. 

Apakah ini salah satu efek dari si kecil putih yang harus ku telan setiap malam? 
Rasanya aku lebih cengeng dibandingkan sebelumnya,  yang memang juga sudah cengeng. 
Pintar menutupi kesedihan,  dan menangis kala sendirian. 

Rasanya ingin tidak ada yang menggores hati agar suasana hati selalu bahagia
Tapi kenapaa? 
Kini lebih sensitif dan menyakitkan jika apa yang diharapkan tidak bisa dikabulkan. 

Rasanya ingin ada yang mengingatkan untuk menelan apa yang harus kutelan setiap malam. 
Tapi bukan alarm.. 
Atau memang tidak ada yang bisa lagi ku harapkan? 

Baru tahap awal,  tapi aku lelah. 
Aku tidak sanggup menjalaninya. 
Aku hanya bisa menutupi semua sakit yang aku rasa dengan tersenyum dan tertawa seolah tidak ada apapun yang kurasa,  walau sebenarnya sakit. 
Itu hanya suatu cara agar aku tidak merepotkan atau menjadi beban orang lain. 

Hingga kulampiaskan tangisan setiap malam~


Sabtu, 19 September 2020

Aku, Kini..

Aku.. 
Kini tidak berfokus pada satu keinginan yang masih belum bisa aku raih.. 
Tapi Aku mencoba menjalani apa yang sudah digariskan.

Aku.. 
Kini tidak ingin insecure dengan keadaan..
Tapi Aku mencoba lebih mensyukuri jalan yg harus ditempuh. 

Aku.. 
Kini tidak ingin berkepala batu dengan terus menerus mencoba mengejar sesuatu yang bayangnya saja semu..
Tapi Aku,  mencoba mengejar pencapaian yang mampu diraih dalam keadaanku. 

Aku..
Kini tidak ingin memikirkan apa perkataan orang tentang apapun itu. 
Tapi Aku, akan memikirkan bagaimana aku bisa jadi diriku. 

Aku.. 
Kini membuka hati,  membuka pikiran untuk menata apa yang bisa kutata dan kuraih. 

Aku.. 
Kini tidak terlalu ingin banyak hal,namun bukan berarti memutus mimpi. 
Hanya saja strategi dan pola pikir berubah. 

Aku.. 
Kini siap menjalani hidup sebagai diriku. 
Siap menjalani apa yg ditakdirkan untukku. 

Aku.. 
Kini hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik dari diriku yang lama. 
Lebih dekat dengan Pemberi Kehidupan dan memulai semua dari awal, walau jejak kesedihan bahkan kesalahan pun tidak akan bisa terhapus. 

Aku..
Kini selalu mengulang do'a untuk harapan dan kehidupan yang lebih damai dengan ketenangan batin. 

Aku.. 
Ingin menjadi lebih baik, ingin menjadi lebih dekat dengan kebaikan dan memiiki ketenangan batin. 

Ya Allah.. 
Permudahlah,  Jangan di Persulit.  Aamiin

Sabtu, 04 Juli 2020

Sebatas Manusia~

Lagi-lagi aku merenung dikala malam,
Tiba-tiba aku memikirkan banyak hal. 
Memikirkan angan dan juga harapan. 
Dan memikirkan semua yang sudah terjadi. 

Aku terkadang terlalu larut memikirkan kesedihan tanpa membaginya dengan orang lain. 
Aku lebih nyaman dengan memendam sendiri. 
Bukannya tidak ingin berbagi ataupun introvert. 
Aku hanya mengikuti hati kemana harus berbagi,  karena hati tidak akan salah memilih orang. 

Aku banyak mengenal orang,  tapi tidak banyak yang aku biarkan mengenal diriku lebih dalam. 
Bahkan,  yang aku rasa sudah dekat pun bukan berarti mereka mengenaliku. 
Hatiku tidak mudah percaya dengan orang walau pun sudah sangat akrab dan berhubungan lama sekalipun. 

Jika aku sudah merasa dekat,  maka tidak menutup kemungkinan aku akan lebih banyak berbagi dengannya. 
Tapi dekat bukan berati begitu mengenal. Jika aku hanya merasa dekat,  maka aku akan berbagi hanya mengenai beberapa hal tentangku.  Bukan berbagi semua hal. 

Aku hanya berhati-hati dan tidak ingin ceroboh. 
Ada diantara orang yang dekat bukan berarti mereka tulus, bahkan mungkin dia adalah orang yang paling iri denganmu. 
Bagaimana jadinya jika aku membiarkan dia lebih mengenal diriku? 
Akan hancur,  orang itu mungkin bahagia jika mengetahui titik terendah atau kelemahan terbesarmu. 

Ada juga diantara orang dekat yang mencoba menjatuhkan walau hanya sebatas kata. Tidak suka melihat diriku maju,  dikala banyaknya orang yang menyukai. 

Disini,  ditulisan ini.. 
Aku tidak merasa bahwa diriku baik dan so pemilih.. 
Aku hanya ingin berbagi.. 
Dan mengingatkan,  aku dan kamu hanya sebatas manusia. 

Jadi.. 

Jangan merasa kamu dekat,  iri dengan yang dilakukanku.. 
Padahal kamu belum mengenalku.  Siapa dan bagaimana aku berhati-hati dengan orang seperti dirimu :)


Hai kamu! 
Ingatlah jika kamu merasa dekat dengan seseorang namun tidak ada ketulusan,  ketahuilah dia juga merasa.  Dan dia juga lebih bisa berhati-hati untuk tidak membiarkanmu mengenali dirinya dan masuk kedalam kehidupannya yang lebih bersifat pribadi. 






Jumat, 20 Maret 2020

Lekas Sembuh Bumiku ❣️

Perang melawan Coronavirus Disease 2019 masih berlanjut sampai saat ini. 
Terlebih ketika diumumkan masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020.

Kepanikan dan keresahan kini sangat merajalela. 
Salah satu yang disosialisasikan pemerintah adalah perlunya dilakukan Social Distancing atau tindakan mengurangi kontak dengan orang lain dan menghindari kegiatan di keramaian. 

Anak-anak sekolah pun diberikan tugas untuk dikerjakan dirumah selama 14 hari. 
Karyawan pun ada yang diliburkan atau bekerja dirumah, tapi tidak untuk karyawan yang bekerja di fasilitas publik atau yang bekerja sebagai tenaga medis. 

Tempat wisata dan keramaian lainnya pun banyak yang ditutup, bahkan mall pun berkurang jam operasionalnya .

Namun, apakah maksud dari social distancing sudah dipahami oleh semua orang? 

Jika ya,  mungkin tidak akan banyak lagi kendaraan yang membuat padatnya jalanan. 

Apakah ini membantu mengurangi penyebaran covid-19?

Tentu ya,  jika kita melakukan himbauan pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. 

Apa ini membantu pekerja yang harus tetap keluar rumah?  Yang tidak bisa melakukan pekerjaannya didalam rumah? 

Driver online misalnya. 

Tentu tidak,  mereka tidak bisa hanya bekerja didalam rumah. 
Tidak akan ada penghasilan yang mereka dapatkan.  Begitupun pekerjaan lain yang tidak bisa dikerjakan didalam rumah. 


Lekas sembuh yaaa bumi.. 

Kami sedih ketika orang lain membatasi jarak satu sama lain,  bahkan untuk berjabat tanganpun enggan. 

Kami sangat sedih ketika harus bersujud tanpa sejadah di tempat ibadah kami. 

Kami sedih ketika sholat berjamaah ditiadakan.

Bahkan lebih sedih ketika tempat beribadah pun harus ditutup demi mengurangi penularan. 

Lekas sembuh yaaa bumi.. 

Kami ingin semua kembali normal 

Kami ingin beribadah dengan tenang

Kami ingin bekerja dengan tenang

Wahai covid-19 pergilah keasalmu atau musnahlah.. 

Kami tetap ingin ramadhan yang akan segera tiba kami sambut dengan semangat dan keceriaan. 

Kami tetap ingin tarawih berjalan dengan lancar. 

Kami tetap ingin pasar ramadhan yang selalu dipenuhi keramaian menjelang berbuka. 

Kami ingin menyamput hari raya dengan suci dan tanpa kegelisahan. 


Semoga bumi kembali pulih dan semua kembali normal. 

Aamiin. 

Salam,
Penghuni Bumi. 

Jumat, 06 Desember 2019

Terus Belajar, Jangan Merasa Pintar~

Menunduklah, selagi ringan.. 
Menunduklah, selagi sabar.. 
Menunduklah, selagi bisa.. 

Kamu tau? 
Menunduk itu adalah saat dimana kita merendah.. 
Bukan diri,  melainkan hati..

Kamu tau? 
Menunduk juga harus kita lalukan,  walaupun saat dimana kita dianggap tidak mengerti suatu hal,  padahal paham... 
Hanya saja tetap mau mendengar sesuatu yang kurang enak untuk didengar.. 
Sampai akhirnya diri merasa dianggap bodoh.. 
(Introduction) 

Panggil saja Ria, 
Seseorang yang sangat mencintai perkumpulan dan organisasi.
Pengalamannya sudah tak diragukan, karena banyaknya bidang organisasi yang telah dia ikuti sejak saat duduk di bangku sekolahan. 

Dia selalu terbuka dan menerima masukan dari setiap anggotanya, mau menerima saran dan kritik apapun yang bersifat membangun. 

Sampai akhirnya Ria kini bekerja disebuah perusahaan swasta di kotanya,  Yogyakarta. 
Karirnya benar-benar dari nol hingga akhirnya dia diberi kepercayaan untuk memimpin. 

Ria dikenal ramah dan jarang sekali marah,  berani selama benar dan mengakui kesalahan jika salah. 

Jika ada suatu hal yang dinilainya kurang baik,  dengan sopan dia selalu menegur dan memberikan masukan terhadap siapapun termasuk atasannya,  hanya saja jika pada atasan dia hanya akan memberi masukan dan tidak seolah mengajari, karena Ria sadar, materi yang atasannya tau dan mengerti justru jauh lebih banyak dari dirinya.
***

Ria selalu mencoba menjaga hati orang lain dengan mengesampingkan hatinya.
Tetap meluruskan apa yang salah, dan tetap tau batasan dan tau cara dengan siapa dia berhadapan.
***

Akhirnya dia pun menikah dengan seorang pemuda yang tinggal satu kota dengannya.
Jodoh ternyata memang cerminan diri, Ria menikah dengan pria yang mencintai organisasi dan kepemimpinan seperti dirinya.
***

Berkaca dari karakter Ria "Bahwa jika diri sudah merasa pintar, itu salah.. 
kita harus tetap menunduk dan tau cara saat berhadapan dengan seseorang. 

Jika sedikit pun tidak menunduk,  apakah yakin caramu tidak menyinggung? 
Dan apakah kamu yakin kamu sudah lebih pintar dari orang yang tersinggung? 
***

لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ فَإِذَا ظَنَّ أَنَّــهُ قَدْ عَلــِمَ فَقَدْ جَهِـــلَ

Seseorang disebut pintar selama ia terus belajar. Begitu ia merasa pintar, saat itu ia bodoh.” (Abdullah ibn Mubarak, ulama sufi, wafat 797 M) 

(Closing) 


Jadi mau jadi orang yang terus belajar atau mau merasa pintar? 

Jumat, 25 Oktober 2019

Berbagilah, Tapi Jangan Menyinggung

Bakat menulis seseorang kini sudah lebih mudah dikembangkan dengan perkembangan zaman. 
Seperti dengan sosial media misalnya. 

Dengan menulis dan membagikannya untuk konsumsi publik,  kini tulisan sesingkat apapun bisa dengan mudah terbaca oleh banyak orang. 

Namun sayangnya,  tidak semua tulisan bertujuan baik. 
Tidak sedikit orang membagikan tulisannya untuk tujuan menyindir atau menyinggung orang lain yang kurang disukainya. 

Tidak sedikit juga pertengkaran terjadi karena ketersinggungan itu membuat suatu pertengkaran, yang pada akhirnya membuat suasana tidak harmonis lagi. 

Mungkin dengan membagikan tulisan seperti itu memberikan kepuasan karena dapat meluapkan apa yang ada di pikiran. 

Ingatlah,  kamu,  aku,  dan kita bukanlah pemilik hati bagaikan malaikat. 
Seberapa kesal hati, lebih baik tidak untuk berbagi tulisan dengan tujuan menyingggung orang lain walau atas dasar tidak suka atau benci.

Tahukah kita? Bahwa dampaknya itu bisa melukai orang lain lebih banyak selain dari orang yang memang ditujukan untuk disinggung.

Karakter seseorang bisa dilihat dari apa yang dia bagikan, memang orang membagikan sesuatu tentang ibadah dan kebaikan bukan berarti dia sudah baik, tapi orang yang membagikan kebaikan walaupun dia belum menjadi orang baik, itu lebih baik, dibandingkan orang yang membagikan suatu keburukan untuk dikonsumsi publik.

Mirisnya, jika orang terdekat dengan kita yang kita tidak mengerti mengapa dia bisa membagikan postingan seakan kita ini buruk.
What? Itu artinya ketika kita sudah mencoba memberikan yang terbaik, pertolongan terbaik, ketulusan terbaik tetap saja akan ada pandangan dan penilaian buruk dari orang lain.

Sudah.. Biarlah..
Berkaca dengan diri sendiri, sebaik apapun orang lain terhadap kita..
Akan tetap ada kekesalan dan kekecewaan kita kepada orang tersebut

Sebaliknya..
Sekeras apapun kita sudah mencoba berbuat baik kepada orang lain, tetap akan ada apa yang menjadi keburukan kita yang membuat orang lain kesal atau kecewa.

Dari situ, lebih baik aku, kamu dan kita lebih bijak dan belajar untuk berhenti membagikan tulisan sesingkat apapun yang bertujuan menyinggung atau merasa diri sendiri paling benar.

Kembangkan keahlian menulis kamu, aku dan kita untuk menulis sesuatu yang positif atau baik untuk dikonsumsi publik.


Yuuukkkk ?