Menunduklah, selagi sabar..
Menunduklah, selagi bisa..
Kamu tau?
Menunduk itu adalah saat dimana kita merendah..
Bukan diri, melainkan hati..
Kamu tau?
Menunduk juga harus kita lalukan, walaupun saat dimana kita dianggap tidak mengerti suatu hal, padahal paham...
Hanya saja tetap mau mendengar sesuatu yang kurang enak untuk didengar..
Sampai akhirnya diri merasa dianggap bodoh..
(Introduction)
Panggil saja Ria,
Seseorang yang sangat mencintai perkumpulan dan organisasi.
Pengalamannya sudah tak diragukan, karena banyaknya bidang organisasi yang telah dia ikuti sejak saat duduk di bangku sekolahan.
Dia selalu terbuka dan menerima masukan dari setiap anggotanya, mau menerima saran dan kritik apapun yang bersifat membangun.
Sampai akhirnya Ria kini bekerja disebuah perusahaan swasta di kotanya, Yogyakarta.
Karirnya benar-benar dari nol hingga akhirnya dia diberi kepercayaan untuk memimpin.
Ria dikenal ramah dan jarang sekali marah, berani selama benar dan mengakui kesalahan jika salah.
Jika ada suatu hal yang dinilainya kurang baik, dengan sopan dia selalu menegur dan memberikan masukan terhadap siapapun termasuk atasannya, hanya saja jika pada atasan dia hanya akan memberi masukan dan tidak seolah mengajari, karena Ria sadar, materi yang atasannya tau dan mengerti justru jauh lebih banyak dari dirinya.
***
Ria selalu mencoba menjaga hati orang lain dengan mengesampingkan hatinya.
Tetap meluruskan apa yang salah, dan tetap tau batasan dan tau cara dengan siapa dia berhadapan.
***
Akhirnya dia pun menikah dengan seorang pemuda yang tinggal satu kota dengannya.
Jodoh ternyata memang cerminan diri, Ria menikah dengan pria yang mencintai organisasi dan kepemimpinan seperti dirinya.
***
Berkaca dari karakter Ria "Bahwa jika diri sudah merasa pintar, itu salah..
kita harus tetap menunduk dan tau cara saat berhadapan dengan seseorang.
Jika sedikit pun tidak menunduk, apakah yakin caramu tidak menyinggung?
Dan apakah kamu yakin kamu sudah lebih pintar dari orang yang tersinggung?
***
لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ فَإِذَا ظَنَّ أَنَّــهُ قَدْ عَلــِمَ فَقَدْ جَهِـــلَ
Seseorang disebut pintar selama ia terus belajar. Begitu ia merasa pintar, saat itu ia bodoh.” (Abdullah ibn Mubarak, ulama sufi, wafat 797 M)
(Closing)
Jadi mau jadi orang yang terus belajar atau mau merasa pintar?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar