Senin, 28 September 2020

Ketika Allah Mengijinkanku Sakit~

Hari demi hari selalu berganti, 
Mengukir cerita dan kisah dalam hidupku. 
Pahit,  manis juga silih berganti, 
Aku lalui semua itu sampai akhirnya dititik ini. 

Tidak seorangpun akan tahu tentang takdir yang akan menjumpai dirinya. 
Bahkan hal diluar perkiraan pun bisa terjadi kapan saja. 
Siap tidak siap kita harus menerima jalan yang sudah digariskan-Nya. 

Rintihan hati tersayat ketika harus menerima kenyataan pahit..
Pedih rasanya,  sesak didada tak mampu ungkap kata..

Kini, 
Tiada hari tanpa air mata
Tiada hari tanpa khawatir akan suatu hal yang belum terjadi
Tiada hari tanpa meratapi


Aku hanya takut.. 
Walau seharusnya semua ku serahkan pada-Nya.. 
Walau seharusnya aku tetap bersyukur karena diluar sana ada yang lebih berat menerima cobaan dari-Mu,  tapi mereka mampu melewatinya. 

Apakah ini salah satu efek dari si kecil putih yang harus ku telan setiap malam? 
Rasanya aku lebih cengeng dibandingkan sebelumnya,  yang memang juga sudah cengeng. 
Pintar menutupi kesedihan,  dan menangis kala sendirian. 

Rasanya ingin tidak ada yang menggores hati agar suasana hati selalu bahagia
Tapi kenapaa? 
Kini lebih sensitif dan menyakitkan jika apa yang diharapkan tidak bisa dikabulkan. 

Rasanya ingin ada yang mengingatkan untuk menelan apa yang harus kutelan setiap malam. 
Tapi bukan alarm.. 
Atau memang tidak ada yang bisa lagi ku harapkan? 

Baru tahap awal,  tapi aku lelah. 
Aku tidak sanggup menjalaninya. 
Aku hanya bisa menutupi semua sakit yang aku rasa dengan tersenyum dan tertawa seolah tidak ada apapun yang kurasa,  walau sebenarnya sakit. 
Itu hanya suatu cara agar aku tidak merepotkan atau menjadi beban orang lain. 

Hingga kulampiaskan tangisan setiap malam~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar