Berakhirnya Cerita Tentang Kita
Berawal dari masa orientasi peserta didik baru di salah satu SMK yang berada di Bandung, tak terasa kini aku adalah seorang siswi sekolah menengah kejuruan. Rasanya sama seperti masa orientasi lainnya, yang berbeda hanya jenjang pendidikan dan lingkungan baru saja menurutku, namun... yang membuat suasana ku merasa sangat berbeda adalah saat aku berkenalan dengan seorang pria bernama Guntar, berkenalan dengannya sangat berkesan bagiku.
Masa orientasi pun telah berlalu, aku pun mulai menikmati suasana baru di sekolah baruku ini, kisah cinta pun mulai terjalin saat temanku Raihan memintaku untuk menjadi kekasihnya, sayangnya hubungan kami terjalin tidak begitu lama. Tidak lama kemudian, aku mulai dekat dengan Guntar, ya.. Guntar orang yang aku kenal saat masa orientasi. Sebenarnya Guntar adalah teman Raihan, namun entah mengapa rasanya aku lebih nyaman berada dekat Guntar, dibandingkan Raihan. Hari-hari pun berlalu, hingga pada suatu hari aku dan Guntar pun resmi berpacaran. Sungguh rasanya ini sangat membahagiakan.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun aku lalui bersama Guntar. Layaknya orang berpacaran, kisah cinta kami pun terjalin begitu terasa indah. Bagaimana tidak, hampir tiga tahun kami berpacaran, rasanya seperti tidak ada kisah cinta lain yang mampu mengalahkan kisah cinta kami. Mmm.. namun saat kita dinyatakan lulus dari SMK perasaanku mulai khawatir tak tentu arah. Guntar memustuskan untuk kuliah, aku harap cinta dia tidak akan berubah walaupun kami tidak bersama seperti halnya saat di SMK.
Saat Guntar telah menjadi seorang mahasiswa, aku memustuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan swasta di Bandung. Untungnya, komunikasi kami tetap perjalan, kami pun masih sering bertemu seperti halnya dulu, rasanya seperti tidak ada yang berubah. Namun... suatu hari saat dimana aku tengah berdua dengan Guntar, handphone Guntar berdering, dan ternyata seorang perempuan menelponnya, aku tak berpikiran negatif, hanya saja ada yang aneh dengan jawaban Guntar ketika aku tanya mengapa perempuan itu menelponnya, saat itu Guntar menjawab “Ini temen satu kampus, kasih tau kalau ada dosen”. Alasannya tidak meyakinkan bagiku, tapi yasudahlah mungkin itu benar.***
Apa yang terjadi dengan hubunganku yang terjalin begitu lama ini, aku tak habis pikir saat mengetahui bahwa ternyata Guntar selingkuh, ya.. selingkuh dengan perempuan yang sempat menelponnya waktu itu. Hubungan kami pun usai, rasanya sulit bagiku , perihnya hati membuat nafas terasa sesak, tidak mudah bagiku untuk melupakan Guntar.
Kami memang sudah tidak memiliki hubungan khusus, namun rasa sayang dan cinta ini sama sekali belum hilang, semua kenangan begitu melekat dalam hati dan pikiranku. Sejak saat hungungan kami putus, aku masih belum bisa melupakan Guntar, dan itu sudah hampir satu tahun lamanya. Kami memang masih saling berkomunikasi melalui e-mail, yang tak habis pikir, mengapa aku selalu membantu Guntar ketika dia membutuhkan, lalu kemana pacarnya? Entahlah aku tak memikirkan pacarnya itu, masih berkomunikasi dan bisa menolong Guntar saja itu sudah cukup bagiku.
Apa yang salah denganku? Apa salah jika aku terus berjuang untuk mendapatkan cinta Guntar kembali? Menurutku seseorang yang selalu ada akan kalah dengan seseorang yang istimewa. Tidak banyak teman-temanku yang mendukungku untuk terus memperjuangkan cintaku untuk Guntar, karena menurut mereka aku harus melupakan Guntar dan membuka hati untuk orang lain. Rasanya sulit, sesak dan sakit hati yang selalu aku terima. Bahkan semangatku pun naik turun, antara harus terus berjuang atau menyerah dan melupakan Guntar.***
Suatu hari pikiranku pun berhasil bercabang, aku mulai sadar bahwa aku memang harus berhenti mengejar cinta yang tidak pasti, aku pun tahu cinta memang tidak harus memiliki, dan cinta pada orang yang salah itu memang tidak harus kita pertahankan. Aku pun bangkin dari keterpurukan dan memutuskan untuk berhenti mengejar Guntar, semua kenangan yang ada sebisa mungkin aku hapus dalam ingatanku, karena cintaku selama ini memang benar-benar salah untuk aku perjuangkan.
INSPIRED BY A TRUE STORY OF MISTRIA SILFIA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar